Home / berita umum / Muslim Berbaga Negara Saat Ramadhan

Muslim Berbaga Negara Saat Ramadhan

Muslim Berbaga Negara Saat Ramadhan – Bicara tentang pengalaman Ramadan, saya juga akan cerita kala terbang dari New Delhi, India ke Tokyo, Jepang, untuk ikuti rapat tentang jalinan Universal Health Coverage (UHC) –semacam Jaminan Kesehatan Nasional di Indonesia– dengan Antimicrobial Resistance (AMR).

Perjalanan di bln. Ramadan ini berikan makna teristimewa. Mulai sejak awal Ramadan, saya pergi dari New Delhi dengan suhu 45°C, lantas meneruskan puasa di Tokyo dengan suhu 25°C.

Berarti, bila sepanjang bln. puasa orang umum cerita terkait turunnya berat tubuh, bila yg saya alami merupakan turunnya suhu tempat melakukan puasa. Dari suhu 45°C di New Delhi ke 25°C di Tokyo, turun 20 derajat sekalian.

Nampaknya benar-benar lebih enak karna dapat berpuasa di suhu yg tidak sepanas di New Delhi. Tapi lantas ada tantangan beda. Subuh di Tokyo jam 2. 40 pagi. Problemnya, bukanlah saja karna sangat awal, tapi juga karna 2. 40 saat Tokyo merupakan 23. 10 saat New Delhi. Akhirnya sedikit susah sesuaikan ‘waktu biologis’ saya untuk subuh yg bila di New Delhi merupakan saat malam.

Problem ke-2, merupakan saat yg lebih panjang. Lama puasa di Tokyo merupakan sekitaran 16 jam. Karna saya cuma tiga malam di Tokyo, serta acara rapat padat hingga malam, tidak gampang mencari masjid di Tokyo.

Satu diantara yg besar merupakan Tokyo Camii Turkish Cultural Center. Di masjid ini ada buka puasa serta pembagian makanan Turki. Diluar itu ada pula masjid Arabic Islamic Institute serta masjid Islamic Cultur Exchange yg berjarak 20 menit jalan kaki dari hotel di Shinagawa tempat saya tinggal.

Disamping itu, di beberapa tempat turis kadang-kadang ada pula sarana untuk muslim melaksanakan ibadah. Saat saya ke Akihabara, di pusat elektronik, di satu diantara lantai paling dasar satu diantara toko populer ada musala. Kecil benar-benar, namun cukup menolong untuk muslim yg akan salat.

Di Harajuku yg populer dengan pusat fashion serta lifestyle, beritanya ada juga musala kecil di dekat Harajuku Tourist Information Center, namun saya belum juga sempat lihat segera. Diluar itu di sekitar daerah yg banyak hiburan malam di Shinjuku ada juga masjid Al Ikhklas Kabukicho yg dikelola rekan-rekan dari Indonesia.

Nah, di gedung United Nations University tempat saya bolak-balik jalankan beragam agenda rapat, tak ada sarana salat. Jadi, saya berniat minta disiapkan prayer room.

Panitia menyediakannya serta ada juga seseorang petugas yg mengantar saya ke kamar itu, memasangkan sajadah dan sebagainya. Nyatanya petugas itu merupakan warga Jepang muslim.

Dia cerita, ayahnya datang dari Iran serta ibunya asli Jepang yg jadi mualaf pada kala menikah. Sayangnya, petugas ini tidak turut salat serta bahkan juga ajukan pertanyaan ke saya ‘Apakah saat ini telah Ramadan? ‘.

Untuk orang-orang Indonesia disini, ada masjid di Meguro, di kompleks Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT) serta ada Keluarga Orang-orang Islam Indonesia (KMII).

Berbagai aktivitas yg mereka adakan sepanjang Ramadan diantaranya tarawih, iktikaf 10 hari paling akhir Ramadan, zakaf infaq sadaqoh (ZIS) dan sebagainya.

KMII juga sediakan kartu jadwal salat Ramadan yang didapatkan ke saya oleh seseorang Dokter dari Departemen Pulmonologi serta Pengetahuan Kedokteran Respirasi FKUI yg tengah belajar menjadi calon doktor di Tokyo ini. Diluar bln. Ramadan, jadi KMII juga mengadakan tausiah bulanan.

Sekian hari rasakan puasa di Tokyo, selang beberapa saat saya mesti balik sekali lagi ke New Delhi. Berarti, suhu kembali beralih dari puasa di suhu 25°C di Tokyo serta naik sekali lagi ke puasa di suhu 45°C di New Delhi.

Tapi yg buat saya semangat merupakan memikirkan minggu depan juga akan pulang ke Jakarta. Selain bersukur juga akan berpuasa di cuaca yg lebih ‘ramah’, yaitu 33°C, saya juga tidak sabar selekasnya berjumpa anak serta cucu.

Alhamdulillah, mudah-mudahan beribadah puasa kita memperoleh rahmat serta barokah dari Allah SWT.

About admin