Penemuan Bahan Bakar Baru Oleh ITS

Agen Casino

Penemuan Bahan Bakar Baru Oleh ITS  – Menurunnya persediaan bahan bakar fosil serta harga nya yg condong tak konstan bikin banyak negara, termasuk juga Indonesia, teperdaya dalam krisis bahan bakar. Kondisi ini lantas memajukan ditemukannya bahan bakar pilihan.

Inspirasi terkait bahan bakar pilihan ini dikemukakan oleh dosen Tehnik Kimia, Institut Technologi 10 November (ITS) Siti Zullaikah, ST, MT, PhD. Menurut dia, ragi Lipomyces starkeyi mungkin saja jalan keluar dari masalah kekuatan itu. Kok dapat?

Menurut dosen yg akrab dipanggil Zulle itu, terdapat banyak model kekuatan pilihan yg di tawarkan buat hadapi krisis itu seperti tenaga matahari, angin serta air. Namun Zulle mengemukakan tak semua sumber kekuatan itu ringan dipraktekkan pada alat transportasi.

Karenanya dia ajukan pilihan beda berwujud biodiesel. Tidak cuman punyai kapabilitas yg sama, biodiesel pun miliki keunggulan yg ramah lingkungan.

” Satu diantaranya kekuatan pilihan yg udah dibuat dengan cara komersial dan pemanfaatannya tak usah modifikasi mesin kendaraan merupakan biodiesel, ” papar Zulle dalam tayangan wartawan yg di terima, Kamis (25/10/2018) .

Menurut Zulle, ada dua sumber pembuatan biodiesel, ialah bahan baku yang bisa dikonsumsi (edible) serta bahan baku yg tidak bisa dikonsumsi (inedible) . Biasanya industri sesungguhnya udah menghasilkan biodiesel berbahan baku yang bisa dikonsumsi.

” Seperti pemerintah Indonesia yg menghasilkan biodiesel dari minyak kelapa sawit, tetapi ongkos produksi yang bisa capai 70 prosen dari keseluruhan ongkos produksi berubah menjadi soal khusus komersialisasi biodiesel itu, ” terangnya.

Karenanya dibutuhkan penggunaan bahan baku nonkonsumsi dalam menghasilkan biodiesel. Pilihan lantas jatuh pada microbial oil (minyak yg dibuat oleh mikroba) yg dibuat ragi model oleaginous.

Zulle sendiri menyatakan udah menelaah ragi yg diperoleh dari Lipomyces starkeyi ini sejak mulai tahun 2004.

Lipomyces starkeyi didapati miliki kandungan minyak yg tinggi, ialah capai 60 prosen. Dia pun punyai konstruksi asam lemak yg sesuai sama buat bahan baku biodiesel. Tidak hanya itu, mikroba ini miliki siklus produksi yg pendek serta tak tergantung pada musim serta cuaca, dan ringan buat dikembangbiakkan.

” Minyak yg dibuat lantas lebih ringan diekstraksi ketimbang dengan minyak yg dibuat alga, ” ungkapnya.

Diterangkan Zulle, rata-rata ragi ini mengakumulasi minyak dalam proses metabolismenya sampai 40 prosen dari biomassanya. Tetapi dalam situasi minimnya nutrisi, mereka bisa mengakumulasi minyak melampaui 70 prosen dari biomassa.

” Ragi oleaginous merupakan mikroorganisme bersel satu (uniseluler) , tiada endotoksin, serta dapat direkayasa genetik dan sesuai buat fermentasi dalam taraf besar, ” jelas doktor lulusan National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) ini.

Dari analisa ini, Zulle mengharapkan, Indonesia punyai metode produksi biomassa serta produk berbasiskan bio yg terintegrasi memanfaatkan rencana biorefinery lewat proses eksplorasi biomassa berubah menjadi beragam produk yang bisa di jual, seperti kekuatan.

Tidak hanya itu, menurut dia penggerak khusus buat pendirian biorefinery merupakan pada faktor keberlanjutan (terdapatnya bahan baku) .

” Rencana ini sangat pas dengan negara kita, Indonesia, yg kaya beragam ragam biomassa, makroalga, mikroalga serta mikroorganisme, ” katanya.